Puasa : Sekolah Diri

18 09 2007

Setiap manusia yang terlahir adalah suci, sesuci embun pagi hari. Tapi setelah menjalani kehidupan yang berjalan lamanya, maka otak manusia yang tadinya kosong (ketika masih bayi) diisi oleh berbagai informasi, hatinya yang lembut diolah dengan berbagai macam perlakuan.

Penerapan informasi dalam otak tak semuanya positif, bisa jadi kebanyakan dari informasi itu bernilai negative, begitupula dengan hati pun tidak diperlakukan dengan nilai posotif saja, sehingga ketika tumbuh menjadi dewasa, diri jadi tidak seimbang dan terjadi kebodohan. Jika diri ingin seimbang dan berpungsi sebagai diri manusia, maka diri harus dididik agar menjadi diri yang sesuai fitrahnya, bernaluri, manusiawi, penghamba sang Pencipta.

Nah, bagai mana cara mendidik diri agar seperti itu? Mau tak mau diri harus disekolahkan, tapi sekolah ini tak perlu bayaran, gratisan, dan tak perlu khawatir kwalitasnya, walaupun gratisan, sekolah ini tidak cuma sekedar menelurkan lulusan, tapi lebih dari itu sekolah ini mampu mencetak lulusannya menjadi diri-diri yang bertaqwa dengan waktu yang tak perlu lama, hanya satu bulan saja.

Kok bisa? Ya, tentu. Sebab ini adalah sekolah asuhan sang Pencipta, Allah Swt.

Ketika diri dan perangkatnya (panca indera) telah menjadi tak seimbang dan menyalahi pola dasar penciptaan manusia (fitrah) maka semuanya harus kembali disekolahkan di sekolah “Puasa Ramadhan”(ini bukan sanlat dan sebangsanya ya!!!) agar dapat kembali menjadi diri yang bertaqwa (al-Baqoroh :183).

Ingat! Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga saja. Tapi, seluruh panca indera pun harus di puasakan.

Puasa telinga adalah menghindar dari mendengar hal-hal yang tidak bermanfaat. Berpuasa mata adalah menahannya untuk menyaksikan sesuatu yang tidak perlu dan berpuasa mulut adalah berhenti untuk berbicara dan membicarakan hal-hal yang tidakperlu dan tidak baku. Berpuasa untuk menghindari hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan arti dan hakikat diri kita sebagai mahluk mulia yang taat dan penuh rahmat.

Saat indera (telinga, mata, mulut) kita istirahat, maka otak kita bebas dari masuknya informasi, hingga kita tak perlu repot-repot mengolahnya menjadi sebuah ilusi, imajinasi atau persepsi. Saat itulah hati kita akan bangkit dan bersuara mengikuti rasa. Hati kita akan menyuarakan ampunan untuk rasa salah dan khilaf yang pernah kita perbuat– istighfar (mohon ampunan). Hati kita akan menyuarakan rasa syukur atas rahmat, berkah serta karunia yang tercura­­­­h– Alhamdulillah (segala puji bagi Allah). Hati kita akan menyuarakan kecucian Dzat-Nya atas setiap kejadian yang pernah kita alami selama ini dan perjalanan hidup yang akan kita lalui di masa yang akan datang-Subhanallah (Maha Suci Allah). Hati kita akan menyuarakan ke Esaan Dzat-Nya, untuk rasa ketergantungan atas segala sesuatu kepada-Nya-Laa ilaha illallah (Tiada Tuhan selain Allah). Hati kita akan menyuarakan kebesaran-Nya, atas kekerdilan dan keterbatasan kita untuk melakukan sesuatu. Karena memang sebenarnya kita tidak mampu- Allahu Akbar (Allah Maha Besar). Kemudian hati kita akan melengkapi dengan berbisik lirih untuk menyimpulkan – tak ada daya upaya dan kekuatan melainkan Allah semata– Lahaula wala Quwwata illa Billah.

Dalam puasa ramadhan ini kita kembali mendidik diri unutk merubah perilaku agar “Bisa Merasa” dari kebiasaan kita yang selalu “Merasa Bisa” .

Wallahu A’lam.

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: